Kamis, 06 Juni 2019

Cerpen: by Double-tEf

"Pertemuan"
Melihat matamu yang sendu, membuka kembali hati yang tertutup
Menatap indah empat mata yang bertemu, seakan hati tak ingin terkatup
Pertama kali bertemu, seakan alam tersenyum padaku
Mungkin Tuhan sudah menetapkan jalan ini, untuk saling mengenali diri
(Hyilya Khusna)
                                    ***
   Pagi hari ini, tak terasa usiaku akan genap kepala dua. Kuliahku pun tak kusangka sudah semester 4, dan tentu tak lama setelah itu akan masuk semester 5. Tinggal hitungan beberapa semester lagi, wisuda akan segera didepan mata. Tentu saja itu semua perlu melewati beberapa tahapan serta ujian yang lainnya. Dimulai dari ujian jasmani hingga rohaninya. Ya... Kesabaran dan keikhlasan diantarnya. Apalagi sebagai seorang muslim rasanya sikap tersebut haruslah dimiliki setiap insan yang ada. 
      Namaku Hilya Khusna, seorang wanita muslimah dari keluarga yang sederhana. Ayahku seorang petani, yang biasa dipanggil Pak Hasan. Kemudian ibuku tercinta, bernama Bu Diah. Aku juga memiliki seorang kakak perempuan, yang bernama Ka Hana. Dia adalah salah seorang yang selalu menginspirasiku, baik dibidang akademik ataupun lifestyle nya. Usiaku dengan Ka Hana berbeda delapan tahun. Kini dia sudah memiliki seorang anak bernama Fatih bin Fahmi. Yang berarti itu adalah keponakan ku. 
Setelah liburan yang cukup lama, aktifitas pun akan dimulai kembali pagi ini. Semua orang bergegas mempersiapkan dirinya untuk bertemu hari yang sibuk. Begitupun dengan aku, yang harus berjuang kembali bangun tidur dan mandi di pagi hari. Setelah liburan kemarin, semua kegiatan itu aku rubah jadwalnya menjadi sedikit lebih siang. Apalagi soal mandi pagi, eeeehh... Rasanya itu perjuangan dan kebanggaan juga jika bisa mandi di pagi hari. Bukan karena aku malas mandi dikarenakan tidak ada sebabnya, akan tetapi air di rumahku itu sudah bagaikan air es. Menggigil rasanya jika terkena kulitku yang tipis, dan kurus ini. Padahal, rumahku bukan di daerah  pegunungan, namun daerahku Alhamdulillah masih asri dengan panorama pedesaannya. Mungkin, itulah salah satu penyebab airnya menjadi sedingin Es.
 Saat hendak berangkat kuliah, aku melihat ayah sedang bersiap untuk pergi ke sawah bersama ibu. Sebanarnya aku tidak tega membiarkan mereka masih harus pergi ke sawah. Apalah daya, kami bukanlah keluarga orang punya. Kami hanya bisa bersyukur, masih bisa makan dan memiliki tempat tinggal. Yang orang lain di luar sana belum tentu memilikinya. Sebelum pergi kuliah, aku berpamitan kepada mereka, dan dalam hati aku bertekad akan meraih segala impianku agar bisa membahagiakan kedua orangtuaku. Agar aku bisa membuat senyuman selalu diwajah mereka. Semangatku pun kembali memanas, dan bergegas mencari angkutan umum menuju kampus. 
      "Terimakasih mang.." ucap Hilya pada supir angkot. Tiba-tiba saat Hilya berbalik badan, seseorang berwajah ceria, dibalut dengan hijab yang cukup lebar sama seperti Hilya, mengagetkannya dari belakang. Hilya pun langsung beristighfar kemudian langsung memeluknya. "Asma.. ana kangen banget sama kamu" ucap Hilya. "Ih..ko sama sih, asma juga kangen banget sama si manis ini.' Goda asma pada Hilya, sambil menjawil dagunya. "Hilya.. kamu tahu gak kita hari ini ada MK baru, dan kata anak-anak dosennya baru juga, terus masih muda, ganteng juga Hil.. aku penasaran deh sama beliau kira-kira asik gak yah di ajar sama beliau." Ucap Asma. 
      "Kamu tahu dari mana dosennya masih muda, emang udah pernah ketemu. Belum kan? Lagian ma.. kita ke kampus tuh niatnya kan buat belajar, biar bisa meraih impian dan cita-cita kita. Janganlah kita terlalu berharap lebih, semester kemarin juga ada dosen yang muda, tahunya kalian pada sakit hati setelah tahu beliau sudah punya calon istri. Hehehehe..." Ejek Hilya. "Hilya... Ini tuh beda, dan aku tahu informasi ini dari kakak tingkat kita. Soalnya mereka pernah di ajar sama beliau. Hilya kenal ka Julia kan?" Hilya mengangguk. "Nah..iya ka Julia cerita itu sama ana." 
"Ya sudah, kita lihat aja nanti. Sebaiknya kita jangan terlalu memikirkan itu. Ayo kita masuk kelas, gak kerasa sedari tadi dengerin kamu cerita udah sampe depan kelas." Mereka berdua pun memasuki kelas, bertegur sapa dengan teman yang lainnya yang sudah datang sebelum mereka. Tak disangka berita yang Asma bilang memang sudah tersebar di penjuru kelas. Hampir semua wanita membicarakan soal dosen muda itu. Aku hanya bisa tersenyum melihat begitu bahagianya mereka, aku jadi penasaran juga memangnya wujud dosen muda itu seperti apa, sampai mereka mendeskripsikannya berlebihan seperti itu. 

 Beberapa menit sebelum jam pertama dimulai, tiba-tiba pintu terbuka dan munculah sosok asing yang datang ke kelas. Berbarengan dengan diamnya seketika anak-anak dikelas, yang sedari tadi riuh membicarakan orang yang baru datang ini. 
"Permisi, apakah ini kelas saya." Laki-laki dewasa itu bertanya dengan lembut. "Iya pak.." serentak anak cewek barisan belakang menjawab. Setelah itu iya masuk ke kelas sembari melemparkan senyuman ke setiap penjuru kelas, namun matanya seketika terhenti kearah ku, kami pun beberapa detik bertatapan. Kejadian itu pun langsung aku sadari dan mengalihkan wajah kearah yang lain. Entah mengapa pembawaan dosen muda ini sedikit berbeda dari yang lainnya. Astagfirullah... Tidak mungkin aku suka padanya pada pandangan pertama seperti ini. Tidak... Tidak.. Akau harus fokus. Gerutu Hilya didalam hatinya.

                * Ternyata Hanya Halu *
  "Hilya...ya..ya.. istighfar ya, kesambet loh bengong kayak gitu." Tiba-tiba tangan asma melambai di depan kedua mataku. Menyadarkan ku. Ternyata dari tadi aku hanya berhalusinasi. Kemudian melihat keadaan kelas di sekelilingku, yang masih riuh dengan pembicaraan dosen itu.
   "Astagfirullah.. " lirih hilya. "Ma.. anter ke kamar mandi yuk. Kayaknya aku perlu nyipratin air nih ke muka. Pagi-pagi udah ngelamun, nanti gak fokus belajar nih". Mereka pun pergi bersama ke kamar mandi. "Ya.. kamu tadi ngebayangin apa hayo...hahahaha pasti dosen muda itu kan? ". Selidik Asma. "Mmmm.. Apaan sih ma, nggak ko. Aku bukan ngebayangin dosen muda itu, aku gak ngebayangin apa-apa. Aku cuma sedang memikirkan yang lain ". Jelas Hilya dengan sedikit kikuk. " Kalau bukan itu, terus kamu mikiran apa?, Jangan-jangan kamu mikiran dia? Hihihi.." Ejek Asma. "Dia.. siapa?" Hilya pun mengikuti arah mata Asma yang menunjukkan ke seseorang didepan kami. WHAT... Kok Asma tahu.
      Dia itu seperti kaktus, keberadaan nya sering dianggap biasa saja. Mungkin jika dia ada di salah satu rak jualan tumbuh-tumbuhan dia selalu menjadi pilihan yang diabaikan. Siapa juga yang mau membeli tanaman yang hanya segumpal warna hijau di penuhi duri di seluruh tubuhnya. Bukan mengindahkan pemandangan, kalau tidak berhati-hati malah akan membahayakan diri sendiri. Tapi ada yang membuatnya istimewa. Karena dia mampu memenuhi kebutuhan hidup seekor unta untuk beberapa hari kedepannya. Wah..  aku Halu lagi. Sok..sok an berantologi. Hilya..sadar..sadar.. Astagfirullah.
     Dari kejauhan dibalik siluet yang dia tampakan, aku seperti melihat dia lelaki yang cukup tinggi, berkacamata dan berpakaian rapih itu melihat kearah ku. Tapi itu baru sepertinya, mataku tidak bisa melihat jelas, terhalang bayangan dari kaca matanya. Akh... Mungkin hanya Halu lagi. Tapi aku penasaran, apakah benar dia melihat kearah ku. Jarak kami semakin dekat, mungkin bisa kupastikan saat berpapasan nanti. Kurang dari dua meter lagi, mata ini melihat mata lain menatapnya. Astagfirullah.. ku cepat menundukkan pandanganku. Aku malu..malu.. kenapa juga harus kayak tadi. Kenapa juga dia harus melihat kearah ku. Akh... Dasar Hilya, dia juga kan punya mata. Biasa aja biasa aja.. nanti ketahuan Asma bahaya ini.
     " Sudahlah.. Hilya, tak apa wajar ko. Jangankan kamu, kating kita aja demen liat dia. Karena memang dia berbeda dari yang lain. Tapi kamu harus bisa mengontrol rasa itu, dan ya.. jangan sampai dia berfikiran yang negatif seperti yang sudah-sudah karena sikapmu yang seperti membenci mereka. Jangan tunjukkan sikap dingin itu lagi ya.. Senyum sedikit kan tak apa".
     " Maafkan aku ma.. aku hanya takut, di campur malu, di campur... aduk deh, sudahlah lebih baik kita segera ke kamar mandi dan kembali ke kelas". Hilya mencoba menghindari perasaan aneh, pertanyaan, dan persepsi Asma.

                      "Cherry blossom"
  Rasa rindu entah mengapa hadir di sana
  Tanda seru berseteru dengan tanda tanya
  Saling menyangkal, karena rasa itu..
      Rindu ini tidak lah baik, tidaklah sah..
      Tapi mengapa Allah ciptakan rasa rindu
      Pada setiap makhluk nya..
 Mungkin...dan mungkin
 Hanya sebuah kemungkinan yang kumiliki
 Pernah berharap, tapi takut berlebihan
 Karena yang lebih itu hanya milik-Nya
    Hanya dalam doa, rindu ku sampaikan
    Itu juga ku titipkan pada angin yang
    berhembus ditengah sunyinya malam
Ku titip dia dalam perlindungan mu..
Agar suatu hari nanti, disaat yang tepat dan di waktu yang tepat..
Ia bisa hadir bersama rombongan nya
Datang dengan segala niat yang ditunjukkan hanya untuk meraih ridhanya.

"Hilya.. ko dosennya belum datang juga ya. Mau masuk gak sih.." Gerutu Asma. "Sabar ma.. mungkin kejebak macet, lagian belum ada info juga kan dari Kosma? ". Tidak lama kemudian Fajar masuk kekelas dan memberikan pengumuman bahwa dosen pagi ini tidak bisa masuk di karenakan ada keperluan mendadak. Jelas Fajar, sebagai penanggung jawab di kelas, alias Kosma (Korban suruhan mahasiswa) begitu lah terkenal nya singkatan itu di lingkungan kampus.
   Karena jadwal kuliah pagi ini hanya satu, dan itu pun dosennya tidak bisa masuk mereka pun bergegas bepergian, kekuasaan dari kelas. Ada yang segera pulang ke rumah atau ke kosan. Ada yang bergegas hangout bareng gengnya, pergi ke tempat makan cukup mewah bagi ukuran mahasiswa. Ada yang ke mushola, melakukan aktifitas peribadahan. Semua pergi melakukan aktivitas nya masing-masing. Namun, Hilya harus segera pulang ke rumah. Mungkin di rumah ada yang lebih membutuhkan tenaganya. Dari pada harus hura-hura, menghabiskan uang jajan pagi ini tanpa ada ilmu pengetahuan yang masuk. Ibarat uang, pengeluaran banyak pemasukan tidak ada. Khawatir bangkit nantinya.
   " Asma.. ana pulang duluan ya, kalau ada info penting dan ana lagi gak online WhatsApp, calling..calling ya..". Pinta Hilya.
   "Wess.. tenang aja Hilya, tak kabari kalau ada info penting. Terutama info pentingnya kalau ana laper ya..hehehehe". Jawab Asma. "Urusan perut aja gk lupa.. ya wis lah, never mind, hahahaha...". Mereka pun tertawa bersama-sama, menertawakan diri mereka masing-masing, karena telah berbicara dengan mencampur semua bahasa yang mereka ketahui.

Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar